Tuesday, October 11, 2011

Pariwisata dan Film

Pariwisata dan film mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah keduanya merupakan industri yang melibatkan modal, tenaga kerja, dan infrastruktur pendukung. Jika pariwisata membutuhkan tranposrtasi, akomodasi dan sarana serta fasilitas pendukung lainnya maka industri film membutuhkan produser, sutradara, aktor dan bioskop serta jaringan pemasarannya, keduanya pun membutuhkan konsumen. Konsumen pada industri film disebut penonton sedangkan konsumen dalam dunia pariwisata disebut wisatawan. Perbedaan utama dari keduanya adalah proses produksi dan konsumsinya. Pada industri pariwisata produksi dan konsumsi berlangsung di waktu dan tempat yang bersamaan (consumed at time and place of production), sedangkan produksi dan konsumsi membutuhkan jeda dan tempat yang berbeda pada industri perfilman. Namun apa dan bagaimana hubungan keduanya?

Film Sukses di Beberapa Destinasi Wisata
Film sangat sering membutuhkan tempat dan pemandangan yang unik dan khas sebagai setting yang mendukung alur ceritanya. Banyak film terkenal dan sukses meraih penghargaan serta box office seperti Lord of the Rings yang pengambilan gambarnya dilakukan di New Zealand, negara yang gencar mempromosikan pariwisatanya. Akhir dari hubungan keduanya dapat ditebak, film Lord of the Ring sangat identik dengan New Zealand seolah film Lord of The Ring ini mewakili negara di tenggara benua Australia ini.
Ada beberapa film mencatat kesuksesan dan meraih box office berkat dukungan tempat atau setting yang tepat. Sebut diantaranya The Last Samurai yang dibintangi oleh aktor Tom Cruise dan berhasil mendapat 4 nominasi oscar. Walau film ini bercerita tentang keterlibatan dunia barat dalam konflik internal kerajaan dan pemberontakan kaum samurai di Jepang di masa restorasi Meiji di tahun 1876-1877, namun pengambilan gambar sepenuhnya dilakukan di New Zealand tanah kelahiran sang produser Vincent Ward.
Pemilihan New Zealand sebagai tempat pembuatan film dan pengambilan gambar The Last Samurai barangkali sangat dipengaruhi oleh kesuksesan yang luar biasa film The Lord of The Ring yang pertama kali dibuat dua tahun sebelumnya pada 2001. Dengan kesuksesan seri pertama yang meraih banyak penghargaan, film ini disusul oleh dua seri berikutnya 2002 dan 2003. Film yang disutradarai oleh Peter Jackson dinobatkan sebagai film yang paling ambisius dan sebagai film yang berhasil meraup keuntungan paling besar sepanjang sejarah industri film modern. Dari 34 nominasi Academy Award, 17 diantaranya berhasil memenangkan piala Oscar.
Pemandangan gunung hijau, lembah yang subur, hutan rimbun dan lebat, sungai berliku-liku, salju putih dipuncak gunung karang serta kawah dan gunung berapi sangat kental dan banyak dijumpai dalam film The Lord of the Ring. Film ini sepenuhnya dibuat dan tersebar di beberapa tempat di New Zealand, negara kelahiran Peter Jackson sang sutradara. Beberapa kawasan konservasi dan taman nasional seperti Taman Nasional Tonggariro atau Gunung Berapi Ruapehu juga dimanfaatkan dalam pengambilan gambar. New Zealand memang dikenal mempunyai beragam pemandangan, topografi dan karakter alam yang cocok untuk pembuatan film kolosal.  
Film lain yang termasuk sukses dan sangat terkait identik tempat pembuatannya adalah Dance with Wolves yang disutradarai sekaligus dibintangi oleh actor muda dan [saat itu] belum begitu dikenal Kevin Costner. Film ini bercerita tentang kisah petualangan dan hubungan seorang tentara dengan suku Indian Sioux selama perang saudara di Amerika. Film ini sukses meraih 7 piala Oscar dan diakui sebagai film yang mengandung makna budaya, sejarah dan etis oleh Library of Congress Amerika Serikat. Pembuatan film ini dilakukan di dua kota yaitu South Dakota dan Wyoming di Amerika Serikat. Beberapa tempat konservasi dan kawasan lindung termasuk Taman Nasional Badland dan Kawasan Lindung Sage Creek juga digunakan dalam pengambilan gambar film Dance with Wolves.
Pemandangan laut dengan pantai pasir putih bersih dan laut biru yang jernih serta dihiasi pulau-pulau karang menjulang di pulau wisata terkenal Phi Phi di pesisir bagian barat Thailand juga dapat ditemui di film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, pemeran Jack dalam film Titanic, The Beach pada tahun 2000.
           
Film Sebagai Bentuk Pemasaran Destinasi
Pengambilan keputusan dalam memilih tujuan berwisata sangat bergantung pada persepsi dan image tentang suatu tempat. Chon (1990) dan Um (1993) menegaskan bahwa image atau gambaran tentang suatu tempat menentukan apakah seseorang wisatawan akan mengunjunginya atau tidak. Semakin baik citra suatu tempat atau destinasi seperti kesan yang bersih, hijau, subur atau segar maka semakin besar kemungkina wisatawan akan mengunjunginya. Demikian pula sebaliknya jika gambaran atau citra suatu destinasi wisata negatif seperti kurang aman, kotor, gersang, kering dan tandus atau rawan bencana maka wisatawan kemungkinan tidak akan mengunjunginya. Citra yang merupakan penentu kemana wisatawan akan berkunjung merupakan persepsi yang melekat dalam pikiran. Film atau rangkaian gambar dalam film membangun serta memperkuat citra atau gambaran tentang suatu tempat.
Menyadari hubungan antara kesuksesan film dengan meningkatnya minat dan ketertarikan akan tempat pengambilan gambar atau pembuatan film tersebut membuat banyak pemerintah mendorong industri film sebagia media promosi pariwisatanya. Hal ini didukung oleh munculnya jenis wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu tempat setelah menonton film. Tempat tersebut biasanya adalah tempat pengambilan gambar filmnya. Lahirlah yang disebut Wisata Film (Film tourism).
Film dimasa mendatang akan banyak dijadikan sarana promosi daerah tujuan wisata. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama meningkatnya jumlah wisatawan membutuhkan jenis dan tujuan wisata alternative. Wisata film adalah pariwisata alternative yang mengunjungi lokasi pembuatan film atau perjalanan wisata yang diinsiprasi dan didorong setelah menonton suatu film. Oleh ahli pariwisata dikategorikan sebagai pariwisata budaya. Kedua pertumbuhan industri perfilman yang pesat. Pertumbuhan ini membutuhkan tempat pembuatan film dengan setting atau latar belakang tempat yang beragam.  Ketiga film klasik dan sukses akan diputar sepanjang masa dan akan terus ditonton jutaan orang. Sound of Music film musikal yang dibuat di Zalsburg Austria, kota kelahiran komponis ternama Wofgang Amadeus Mozart pada tahun 1965, atau 45 tahun yang lalu masih ditonton banyak orang saat ini. Bahkan menjadi symbol dan bagian dari kota wisata terpadat di Eropa ini. Keempat mahalnya biaya promosi konvensional seperti iklan di TV atau media cetak. Spot iklan saluran ESPN per 30 detik seharga Rp.87juta, dapat dibayangkan mahalnya iklan pariwisata berdurasi 1 menit Malaysia Truly Asia yang ditayangkan tiap minggu selama berbulan-bulan di Discovery Channel. Tidak mengherankan jika Badan Pariwisata New Zealand berkata ’.....Film Lord of the Ring adalah iklan wisata New Zealand berdurasi 3 jam.....’. Kelima alur cerita, tautan sejarah atau budaya yang membuat film menjadi lebih menarik dan membangkitkan minat calon wisatawan. Beberapa film yang disebutkan diatas merupakan kisah nyata yang mengandung nilai-nilai yang mampu menginspirasi banyak orang. Hal inilah yang menjadikan film sebagai alternative promosi daerah tujuan wisata atau destinasi yang sangat menjanjikan. 
Kesuksesan Lord of the Ring memperkenalkan New Zealand sebagai destinasi wisata ke dunia menjadi pelajaran menarik bagi banyak negara. Film ini sedianya diperuntukkan untuk pasar Amerika sebagai pusat industri film Hollywood, namun kemudian mendapat perhatian diseluruh dunia. Pada tahun 2003, dua tahun setelah pemutaran seri pertama The Fellowship of the Ring, tercatat terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke New Zealand sebesar 7,1%. Film Lord of the Ring telah mendorong pertumbuhan pariwisata di New Zealand.
Ada beberapa film yang disebut-sebut sukses mendongkrak kunjungan wisatawan mengikuti suksesnya sebuah film. Yang paling spektakular untuk dicatat adalah film Braveheart yang dibintangi Mel Gibson. Hudson dan Ritchie (2006) mencatat bahwa peningkatan wisatawan 300% setahun setelah di releasenya film ke monumen Wallace yang dibuat untuk mengenang keberanian pahlawan Scotland ini.
Bermaksud mengikuti jejak keberhasilan negara tetangganya, pemerintah Australia melalui Tourism Australia mendukung promosi dan peluncuran film Australia pada tahun 2008. Film ini dibintangi oleh aktris tenar Nicole Kidman dan Hugh Jackman, oleh lembaga promosi pariwisata dikatakan bahwa aktor dan bintang utama sebenarnya dari film ini adalah Australia. Berlatar belakang perang dunia ke II, Australia digambarkan dalam film ini sebagai daerah pedalaman dengan pemandangan indah alami dan belum terjamah. Dengan biaya promosi yang besar untuk mendukung film Australia, pemerintah Australia mengharapkan film ini mampu menarik sebanyak-banyaknya wisatawan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah yang ada dalam film.
Beberapa daerah wisata lahir sebagai hasil dari perkembangan industri film, yang belakangan ini melahirkan wisata film (Film Tourism).

Dampak Film Terhadap Destinasi
Munculnya film yang sukses dan terkenal berpengaruh besar terhadap tempat pengambilan gambar atau pembuatan film tersebut. Dampaknya sangat beragam mulai dari ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Kunjungan wisatawan asing ke suatu tempat membawa devisa yang mampu menggerakkan perekonomian lokal dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini memberi dampak positif ekonomis jangka pendek dan tetapi mampu memperbaiki kondisi ekonomi secara jangka panjang.
Beberapa film bahkan mampu menguatkan nilai budaya setempat dan mengangkat kembali makna sejarah bangsa. Braveheart yang dibintangi dan disutradarai Mel Gibson pada tahun 1995 terbukti mampu menghidupkan kisah tokoh patriot dan pahlawan nasional Scotlandia Sir William Wallace. Film ini mengingatkan semangat nasionalisme dan perjuangan untuk melepaskan diri dari koloni dan penjajahan kerjaaan Inggris di abad 14. Dance with Wolves juga dipuji karena nilai-nilai humanis, idealisme serta heroiknya yang menginspirasi.
Tidak hanya itu, film seperti yang diungkapkan di atas mampu membangkitkan apresiasi terhadap keindahan alam, semangat konservasi dan pelestarian lingkungan dan satwa liar. Hubungan yang kuat antara film dan keindahan serta kehidupan alam liar dapat dilihat dengan pengambilan gambar di kawasan-kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam atau hutan lindung. Crocodile Dundee, film komedi tahun 1986 yang dibintangi Paul Hogan adalah salah satunya. Steve Irwin aktivis lingkungan, pencinta satwa liar dan ikon konservasi Australia juga sempat tampil dalam film komedi Mr. Doolitle 2 yang dibintangi oleh aktor kawakan Eddie Murphy.
Hubungan film dan pariwisata seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk mulai mempertimbangkan film sebagai bahan promosi wisata [domestik]. Mungkin seperti film Laskar Pelangi yang bersetting Pulau Belitung. Dan jika mendapat perhatian serta promosi yang tepat dan sesuai seharusnya film King Kong yang disutradarai oleh sutradara Lord of the Ring Peter Jackson pada tahun 2005, bisa dimanfaatkan untuk promosi pariwisata Indonesia. Mengingat Skull Island di transkrip awal film sedianya digambarkan sebagai sebuah pulau kecil dekat Sumatra dan kapal yang digunakan berlayar dinamakan Venture Surabaya, dua nama tempat yang sudah pasti hanya ada di Indonesia.
Bagiamana dengan film Eat, Pray and Love film terbaru si Pretty Woman Julia Robert, apakah bisa mengangkat pariwisata Indonesia?  

Tuesday, October 4, 2011

Pergulatan dalam Pariwisata

Beberapa saat yang lalu  ada kejadian menarik disalah satu stasiun televisi pada program hukum yang selalu disebut sebagai acara yang paling mencerahkan dan dinanti oleh banyak pemirsa. Dalam suatu dialog atau lebih tepatnya perdebatan, ada seorang politisi yang mencemooh seorang budayawan karena merasa sang budayawan asal bicara dan isi pembicaraannya kurang bermutu. Mbah budayawan yang berpenampilan seniman berambut panjang dan eksentrik di pandang sebelah mata oleh politisi yang berjas licin mengkilat, disetrika rapi. Singkatnya, sang politisi merasa lebih hebat dari budayawan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah memang politisi lebih berkontribusi dalam pembangunan dibanding budayawan? Apa budayawan adalah orang yang hanya memikirkan hal sepele dan tidak bermanfaat sehingga tidak menyumbang apa-apa bagi pembangunan negaranya?

Ego sektoral dalam berbagai kesempatan atau seminar sering disalahkan sebagai biang kurang harmonisnya irama pembangunan yang bersifat lintas sektor. Salah satu pihak merasa lebih baik, bermanfaat dan lebih hebat dari lainnya. Seolah yang berperan hanya satu kelompok saja. Tidak hanya dibidang pembangunan, sikap merasa lebih pintar atau lebih tinggi terjadi juga dalam bidang pendidikan. Jika kembali mengingat pada masa kuliah dahulu, fakultas teknik misalnya selalu dianggap lebih pintar dan akhirnya akan lebih cepat dapat kerja sehingga lebih bermanfaat dibanding fakultas ilmu sosial. Status seperti ini berjenjang dan terjadi pada fakultas-fakultas lain bahkan secara internal. Di fakultas pertanian, ada jurusan yang lebih favorit dan ada yang paling tidak diminati, biasanya yang favorit jika terkait dengan hitung-hitungan atau keteknikan menempatkan Teknologi Pertanian sebagai jurusan yang banyak peminatnya. 

Padalah jika diamati ilmu yang satu tidak akan eksis dan mapan tanpa keberadaan ilmu lainnya. Ilmu matematika, induknya ilmu teknik, tidak berkembang sendiri melainkan diawali dan dibarengi justru dengan ilmu filsafat serta psikologi. Pertanian sebagai ilmu tidak akan berkembang tanpa adanya teori Malthusian yang merupakan fenomena sosial pertumbuhan masyarakat Amerika Serikat yang menghendaki pemenuhan kebutuhan serta produksi secara massal dan berkelanjutan. Serta penemuan-penemuan keteknikan modern terjadi karena adanya permasalahan sosial non-kuantitatif dalam masyarakat. Desain, penamaan serta pemasaran teknologi baru selalu diawali dengan kajian-kajian yang melibatkan sosiolog dan budayawan. Bahkan pengenalan temuan baru tersebut pada kelompok masyarakat sering gagal tanpa melibatkan pertimbangan aspek budaya. Pembangunan bendungan multifungsi yang penuh kalkulasi matematis misalnya dapat gagal jika masyarakat yang terkena dampak tidak dimasukkan dalam pertimbangan-pertimbangan yang diperoleh melalui pendekatan kualitatif.

Dikotomi ilmu sosial dan ilmu pasti memang masih terjadi di negara berkembang. Berbeda dengan negara maju, percabangan ilmu sosial misalnya seperti antropologi merupakan ilmu yang menarik sehingga digeluti banyak pihak. Margareth Mead antropolog yang lama menetap dan tertarik dengan Bali meneliti banyak aspek kehidupan masyarakat Bali. Margaret Mead secara tidak langsung menggugah rasa ingin tahu masyarakat Barat tentang eksotisme Bali. Demikian pula dengan seniman-seniman besar yang pernah menetap di Bali pada masa 1920-1940an seperti Walter Spies, Rudolf Bonet, Miguel Covarrubias dan lainnya. Mereka seniman dan budayawan adakah tokoh yang secara tidak langsung mempromosikan Bali sebagai destinasi pariwisata, pada masa tersebut sebagai 'surga terakhir'. Pada kenyataannya tidak sedikit tokoh dan pemimpin dunia yang berlatar belakang ilmu sosial.Di negara berkembang, seperti Indonesia, nampaknya ilmu sosial masih dilihat sebelah mata.

Pergulatan demikian juga terjadi dalam keilmuan pariwisata. Dalam pariwisata terjadi pemisahan yang ekstrim antara dunia praktisi dengan akademisi. Praktisi mengklaim bahwa penelitian pariwisata tidak 'menjejak bumi' sehingga tidak banyak bermanfaat bagi mereka (Buku DMO). Demikian pula sebaliknya menurut akademisi, para pelaku usaha pariwisata seolah berjalan sendiri dan merasa lebih tahu pariwisata. Tidak sedikit praktisi bekerja sebagai konsultan pada beberapa pemerintahan provinsi. Dikotomi lainnya adalah tentang karakter inter-disiplin versus intra-disiplin keilmuan pariwisata terutama dalam metodologi keilmuannya.

Kembali ke perdebatan politisi dan budayawan, setelah  menonton acara televisi tersebut saya kemudian mencari tahu tentang latar belakang keduanya. Tidak disangka, ternyata sang budayawan walau tidak menyelesaikan studinya justru berlatar belakang ilmu matematika dari institut teknik kenamaan di Indonesia sedangkan sang politisi seorang jebolan fakultas bahasa & sastra. Mungkin tidak ada yang salah dari keduanya jika berada pada posisi dan pendapat berseberangan. Pertanyaannya adalah bagaimana keduanya membuktikan kebenaran masing-masing dengan menjalani perannya sebaik dan semaksimal mungkin. Politisi memperbaiki arah dan kebijakan politik pembangunan sedangkan budayawan membangun budaya masyarakat dan bangsa yang lebih bermartabat.

Pengantar Kumpulan Tulisan

Body of knowledge berkembang dan tersusun oleh akumulasi wacana dan ide. Wacana tersebut idealnya mengandung kejujuran yang pada hakikatnya merupakan kebenaran subyektif. Benar bagi seseorang belum tentu diterima oleh yang lain, demikian sebaliknya. Kumpulan tulisan ini tidak bermaksud mengkritik atau menafikan upaya akademis yang telah berhasil mengantar pariwisata menjadi ilmu yang mandiri. Sebaliknya, tulisan ini berusaha untuk memperkaya wacana, melalui proses pertukaran ide dan pikiran, yang pada akhirnya bertujuan untuk memperkaya body of knowledge pariwisata. Karena hanya melalui pertukaran ide dan pikiran sebuah ilmu dapat hidup, tumbuh dan bertambah kuat, sebagaimana yang dilakukan Plato yang memperkaya dan memperkuat ilmu filsafat saat membuka academus pada masa Yunani Kuno. Filsafat pada masa tersebut bagi masyarakat belum menjadi ilmu karena merupakan sesuatu yang baru, rumit dan aneh. Filsafat bagi sekelompok orang terkesan tidak mengandung manfaat.

Diskusi, saling berbagi informasi, serta saling membantu dalam meneliti atau menulis ide dan pemikiran merupakan tugas akademisi. Tugas ini bertujuan akhir melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat tidak hanya secara praktis (aksiologis) melainkan demi kebaikan (ontologis) dan bertahannya pengetahuan itu dengan posisinya diantara ilmu yang lain (epistemologis). Pariwisata sebagai ilmu yang telah diakui secara resmi tidak akan hidup tanpa dinamika akademis seperti penelitian, diskusi ilmiah dan publikasi atau menulis (Pitana, 2011).

Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan penting tentang pariwisata yang akan menjadi judul-judul terpisah dari tulisan ini. Pertama adalah kearah mana pariwisata akan berkembang serta bagaimana pariwisata dapat dikembangkan. Pertanyaan ini akan mendasari tema tulisan bagian pertama tentang pengakuan pariwisata secara resmi sebagai ilmu yang mandiri. Selain mengurai sejarah dan proses keberadaan institusi pendidikan pariwisata tulisan pada bagian ini berusaha mendeskripsikan bagaimana upaya yang telah dilakukan sehingga pariwisata akhirnya diakui sebagai disiplin ilmu di Indonesia. Paparan ini akan memberikan landasan berpikir arah perkembangannya.

Pertanyaan bagian kedua adalah bagaimana hubungan antara teori pariwisata yang akan diwakili komunitas atau masyarakat akademis serta praktik pariwisata yang digeluti oleh kaum professional dan pelaku sektor usaha pariwisata. Bagaimana seharusnya hubungan kedua pihak atau bidang tersebut terutama dalam pengembangan pengetahuan kepariwisataan. Posisi apa yang dilakoni terutama oleh para praktisi yang kemudian menggeluti dunia pendidikan dalam tujuan pengembangannya. Seperti diketahui bahwa didunia pendidikan pun terdapat dua aliran yaitu kepariwisataan dan hospitality atau jasa pelayanan. Kepariwisataan terkait dengan pengembangan pariwisata dan hospitality yang terkait dengan usaha sektor pariwisata. Serupa dengan diatas, pertanyaan ini mendasari tema tulisan bagian kedua tentang pengakuan pariwisata sebagai bagian dari industri. Bagian ini juga ingin memperjelas dan menguraikan penamaan industri pada pariwisata apakah sudah tepat secara leksikal atau hanya berupa hiperbolik.    

Serta banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti bagaimana seharusnya konstruksi pariwisata sebagai sebuah ilmu? bagaimana bentuk penyelesaian dilema multi, inter atau intra-disiplin pariwisata? metode apa yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan keilmuan yang murni sebagai metodologi kepariwisataan dan bukan pinjaman dari disiplin ilmu lain? Bagaimana definisi pariwisata yang ideal dan tunggal namun dapat memayungi seluruh sektor pariwisata? serta banyak pertanyaan lainnya yang jawabannya perlu perumusan standar secara bersama. 

Evolusi, Pendidikan dan Pariwisata

Ada tiga pertanyaan ber-evolusi yang pernah muncul dalam benak saya tentang kaitan antara pariwisata dengan pendidikan. Pertama adalah apakah pariwisata bisa dipelajari di bangku sekolah? Pertanyaan ini terlintas dalam benak saya 20an tahun lalu saat masih duduk dibangku Sekolah Dasar di sebuah kota kecil atau tepatnya kampung, berbukit dan bergunung setengah jam sebelum memasuki Tana Toraja. Pariwisata, bagi saya saat itu adalah kegiatan seorang pemandu wisata hebat yang pandai dan fasih berbahasa asing mengantar serombongan orang perawakan besar berkulit putih bersih dari negeri jauh yang tidak terbayangkan sama sekali.

Pertanyaan saya berikutnya adalah enam tahun kemudian sesaat sebelum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Makassar. Saat itu ada rasa penasaran tentang pelajaran apa saja yang didapat ketika menjadi mahasiswa di perguruan tinggi pariwisata. Kebetulan seorang tetangga adalah mahasiswi di salah satu akademi pariwisata yang berada tidak jauh dari tempat tinggal saya saat itu. Sang mahasiswi nampak cantik dalam seragam kuliah hitam putih, hampir tidak ada bedanya dengan seragam yang dipakai oleh murid satu atau dua sekolah menengah atas, bedanya adalah selain sedikit kelihatan lebih dewasa, seragamnya dipadu dengan dasi hitam yang mungil. 

Pertanyaan yang ketiga muncul setelah menyelesaikan kuliah dan memperoleh gelar sarjana teknologi pertanian beberapa tahun lalu. Godaan untuk menjadi pemandu wisata dengan kuliah di akademi pariwisata tidak lebih kuat dari pertimbangan praktis altruistik untuk membantu petani yang sering saya temui ketika menghabiskan masa kecil di kampung dulu. Akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi di fakultas pertanian dan kehutanan di Universitas Hasanuddin menjadi pilihan. Kembali tentang perubahan pertanyaan ketiga yang semakin kuat belakangan ini, beberapa saat setelah menggeluti dunia pendidikan pariwisata. Rasa penasaran saya adalah bisakah pariwisata benar-benar menjadi sebuah ilmu mandiri tanpa diimbuhi kata multi, intra atau inter-disiplin? Bisakah pariwisata terpisah dari ilmu yang dianggap menjadi payung, yang digambarkan oleh Jafar Jafari, ilmu pariwisata seperti Ekonomi, Antropologi, Geografi dan lain sebagainya?

***

Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan dan sesuatu peristiwa muncul sebagai akibat dari kejadian lain. Jadi memang benar bahwa hal yang terjadi dalam hidup sebenarnya merupakan rangkaian dan akumulasi dari kejadian-kejadian sebelumnya. Bayangan tentang kehebatan sang pemandu wisata tertanam sedemikian kuat dalam bawah sadar saya sehingga suatu waktu saya tersadar tengah melakoni profesi pemandu wisata berbahasa Prancis justru saat masih kuliah di pertanian. Demikian juga dengan dunia asal wisatawan asing yang tidak terbayangkan semasa SD, menjadi tempat saya menetap selama hampir dua tahun ketika mendapat beasiswa untuk melanjutkan pandidikan pasca sarjana di Belanda. Menggabungkan pariwisata dan pertanian, saya lulus di jurusan Leisure, Tourism and Environment pada Wageningen University sebuah universitas yang terkenal dengan ilmu pertanian, peternakan dan ilmu alamnya. Mirip Institute Pertanian Bogor jika di Indonesia. 

Pertanyaan terakhir diatas semakin menggelitik dan membuat penasaran terutama ketika didorong teman-teman untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang paling tinggi, tingkat doktoral. Layakkah menghabiskan waktu 3-4 tahun untuk mendalami ilmu ini? bagaimana kemampuannya untuk berkembang sampai batas dimana ia akan ber-evolusi lalu menjadi sebuah sub disiplin baru. Thomas Kuhn dalam the Structure of Scientific Revolution (1970) mengemukakan tiga bentuk perubahan pengetahuan dari pra-science menjadi normal science lalu terakhir revoutionary science. Ilmu bioteknologi, menurut pendapat tersebut merupakan turunan atau hasil evolusi pengetahuan, dari biologi. 

Pengembangan kelimuan pariwisata di Indonesia, seharusnya tidak hanya berhenti sebatas pengakuan saja. Ilmu pariwisata harus dihidupkan dengan dinamika akademis yang sesuai dengan tahapan akhir flatform atau model pengembangan knowledge-based (Jafar Jafari, 1989). Sudah saatnya pengembangan pariwisata baik sebagai sektor ekonomi dan [terutama] sektor pendidikan diarahkan pada pengembangan yang berdasarkan riset. Kajian ilmiah tersebut secara terus menerus dan bertahap akan terakumulasi membangun dan memperkaya batang tubuh (body of knowledge) pariwisata sebagai ilmu yang tidak hanya mandiri namun mampu menjawab tantangan-tantangan yang dihadapinya dengan metodologinya sendiri. Pariwisata dalam tahapan seperti ini diharapkan dapat lepas dari tahap pra-pengetahuan dan masuk pada masa dimana ia tumbuh sebagai ilmu normal (Kuhn, 1970). Jika tidak, pengakuan pariwisata sebagai ilmu hanya terjadi bagai kilatan kembang api euphoric sesaat, yang cepat atau lambat habis. Jika tidak, sekali lagi, pariwisata sebagai ilmu ibarat bibit tanaman yang kelebihan pupuk sehingga layu dan mati sebelum berkembang. Waktu mungkin yang akan menjawabnya.