Ada tiga pertanyaan ber-evolusi yang pernah muncul dalam benak saya tentang kaitan antara pariwisata dengan pendidikan. Pertama adalah apakah pariwisata bisa dipelajari di bangku sekolah? Pertanyaan ini terlintas dalam benak saya 20an tahun lalu saat masih duduk dibangku Sekolah Dasar di sebuah kota kecil atau tepatnya kampung, berbukit dan bergunung setengah jam sebelum memasuki Tana Toraja. Pariwisata, bagi saya saat itu adalah kegiatan seorang pemandu wisata hebat yang pandai dan fasih berbahasa asing mengantar serombongan orang perawakan besar berkulit putih bersih dari negeri jauh yang tidak terbayangkan sama sekali.
Pertanyaan saya berikutnya adalah enam tahun kemudian sesaat sebelum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Makassar. Saat itu ada rasa penasaran tentang pelajaran apa saja yang didapat ketika menjadi mahasiswa di perguruan tinggi pariwisata. Kebetulan seorang tetangga adalah mahasiswi di salah satu akademi pariwisata yang berada tidak jauh dari tempat tinggal saya saat itu. Sang mahasiswi nampak cantik dalam seragam kuliah hitam putih, hampir tidak ada bedanya dengan seragam yang dipakai oleh murid satu atau dua sekolah menengah atas, bedanya adalah selain sedikit kelihatan lebih dewasa, seragamnya dipadu dengan dasi hitam yang mungil.
Pertanyaan yang ketiga muncul setelah menyelesaikan kuliah dan memperoleh gelar sarjana teknologi pertanian beberapa tahun lalu. Godaan untuk menjadi pemandu wisata dengan kuliah di akademi pariwisata tidak lebih kuat dari pertimbangan praktis altruistik untuk membantu petani yang sering saya temui ketika menghabiskan masa kecil di kampung dulu. Akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi di fakultas pertanian dan kehutanan di Universitas Hasanuddin menjadi pilihan. Kembali tentang perubahan pertanyaan ketiga yang semakin kuat belakangan ini, beberapa saat setelah menggeluti dunia pendidikan pariwisata. Rasa penasaran saya adalah bisakah pariwisata benar-benar menjadi sebuah ilmu mandiri tanpa diimbuhi kata multi, intra atau inter-disiplin? Bisakah pariwisata terpisah dari ilmu yang dianggap menjadi payung, yang digambarkan oleh Jafar Jafari, ilmu pariwisata seperti Ekonomi, Antropologi, Geografi dan lain sebagainya?
***
Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan dan sesuatu peristiwa muncul sebagai akibat dari kejadian lain. Jadi memang benar bahwa hal yang terjadi dalam hidup sebenarnya merupakan rangkaian dan akumulasi dari kejadian-kejadian sebelumnya. Bayangan tentang kehebatan sang pemandu wisata tertanam sedemikian kuat dalam bawah sadar saya sehingga suatu waktu saya tersadar tengah melakoni profesi pemandu wisata berbahasa Prancis justru saat masih kuliah di pertanian. Demikian juga dengan dunia asal wisatawan asing yang tidak terbayangkan semasa SD, menjadi tempat saya menetap selama hampir dua tahun ketika mendapat beasiswa untuk melanjutkan pandidikan pasca sarjana di Belanda. Menggabungkan pariwisata dan pertanian, saya lulus di jurusan Leisure, Tourism and Environment pada Wageningen University sebuah universitas yang terkenal dengan ilmu pertanian, peternakan dan ilmu alamnya. Mirip Institute Pertanian Bogor jika di Indonesia.
Pertanyaan terakhir diatas semakin menggelitik dan membuat penasaran terutama ketika didorong teman-teman untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang paling tinggi, tingkat doktoral. Layakkah menghabiskan waktu 3-4 tahun untuk mendalami ilmu ini? bagaimana kemampuannya untuk berkembang sampai batas dimana ia akan ber-evolusi lalu menjadi sebuah sub disiplin baru. Thomas Kuhn dalam the Structure of Scientific Revolution (1970) mengemukakan tiga bentuk perubahan pengetahuan dari pra-science menjadi normal science lalu terakhir revoutionary science. Ilmu bioteknologi, menurut pendapat tersebut merupakan turunan atau hasil evolusi pengetahuan, dari biologi.
Pengembangan kelimuan pariwisata di Indonesia, seharusnya tidak hanya berhenti sebatas pengakuan saja. Ilmu pariwisata harus dihidupkan dengan dinamika akademis yang sesuai dengan tahapan akhir flatform atau model pengembangan knowledge-based (Jafar Jafari, 1989). Sudah saatnya pengembangan pariwisata baik sebagai sektor ekonomi dan [terutama] sektor pendidikan diarahkan pada pengembangan yang berdasarkan riset. Kajian ilmiah tersebut secara terus menerus dan bertahap akan terakumulasi membangun dan memperkaya batang tubuh (body of knowledge) pariwisata sebagai ilmu yang tidak hanya mandiri namun mampu menjawab tantangan-tantangan yang dihadapinya dengan metodologinya sendiri. Pariwisata dalam tahapan seperti ini diharapkan dapat lepas dari tahap pra-pengetahuan dan masuk pada masa dimana ia tumbuh sebagai ilmu normal (Kuhn, 1970). Jika tidak, pengakuan pariwisata sebagai ilmu hanya terjadi bagai kilatan kembang api euphoric sesaat, yang cepat atau lambat habis. Jika tidak, sekali lagi, pariwisata sebagai ilmu ibarat bibit tanaman yang kelebihan pupuk sehingga layu dan mati sebelum berkembang. Waktu mungkin yang akan menjawabnya.
No comments:
Post a Comment