Tuesday, October 11, 2011

Pariwisata dan Film

Pariwisata dan film mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah keduanya merupakan industri yang melibatkan modal, tenaga kerja, dan infrastruktur pendukung. Jika pariwisata membutuhkan tranposrtasi, akomodasi dan sarana serta fasilitas pendukung lainnya maka industri film membutuhkan produser, sutradara, aktor dan bioskop serta jaringan pemasarannya, keduanya pun membutuhkan konsumen. Konsumen pada industri film disebut penonton sedangkan konsumen dalam dunia pariwisata disebut wisatawan. Perbedaan utama dari keduanya adalah proses produksi dan konsumsinya. Pada industri pariwisata produksi dan konsumsi berlangsung di waktu dan tempat yang bersamaan (consumed at time and place of production), sedangkan produksi dan konsumsi membutuhkan jeda dan tempat yang berbeda pada industri perfilman. Namun apa dan bagaimana hubungan keduanya?

Film Sukses di Beberapa Destinasi Wisata
Film sangat sering membutuhkan tempat dan pemandangan yang unik dan khas sebagai setting yang mendukung alur ceritanya. Banyak film terkenal dan sukses meraih penghargaan serta box office seperti Lord of the Rings yang pengambilan gambarnya dilakukan di New Zealand, negara yang gencar mempromosikan pariwisatanya. Akhir dari hubungan keduanya dapat ditebak, film Lord of the Ring sangat identik dengan New Zealand seolah film Lord of The Ring ini mewakili negara di tenggara benua Australia ini.
Ada beberapa film mencatat kesuksesan dan meraih box office berkat dukungan tempat atau setting yang tepat. Sebut diantaranya The Last Samurai yang dibintangi oleh aktor Tom Cruise dan berhasil mendapat 4 nominasi oscar. Walau film ini bercerita tentang keterlibatan dunia barat dalam konflik internal kerajaan dan pemberontakan kaum samurai di Jepang di masa restorasi Meiji di tahun 1876-1877, namun pengambilan gambar sepenuhnya dilakukan di New Zealand tanah kelahiran sang produser Vincent Ward.
Pemilihan New Zealand sebagai tempat pembuatan film dan pengambilan gambar The Last Samurai barangkali sangat dipengaruhi oleh kesuksesan yang luar biasa film The Lord of The Ring yang pertama kali dibuat dua tahun sebelumnya pada 2001. Dengan kesuksesan seri pertama yang meraih banyak penghargaan, film ini disusul oleh dua seri berikutnya 2002 dan 2003. Film yang disutradarai oleh Peter Jackson dinobatkan sebagai film yang paling ambisius dan sebagai film yang berhasil meraup keuntungan paling besar sepanjang sejarah industri film modern. Dari 34 nominasi Academy Award, 17 diantaranya berhasil memenangkan piala Oscar.
Pemandangan gunung hijau, lembah yang subur, hutan rimbun dan lebat, sungai berliku-liku, salju putih dipuncak gunung karang serta kawah dan gunung berapi sangat kental dan banyak dijumpai dalam film The Lord of the Ring. Film ini sepenuhnya dibuat dan tersebar di beberapa tempat di New Zealand, negara kelahiran Peter Jackson sang sutradara. Beberapa kawasan konservasi dan taman nasional seperti Taman Nasional Tonggariro atau Gunung Berapi Ruapehu juga dimanfaatkan dalam pengambilan gambar. New Zealand memang dikenal mempunyai beragam pemandangan, topografi dan karakter alam yang cocok untuk pembuatan film kolosal.  
Film lain yang termasuk sukses dan sangat terkait identik tempat pembuatannya adalah Dance with Wolves yang disutradarai sekaligus dibintangi oleh actor muda dan [saat itu] belum begitu dikenal Kevin Costner. Film ini bercerita tentang kisah petualangan dan hubungan seorang tentara dengan suku Indian Sioux selama perang saudara di Amerika. Film ini sukses meraih 7 piala Oscar dan diakui sebagai film yang mengandung makna budaya, sejarah dan etis oleh Library of Congress Amerika Serikat. Pembuatan film ini dilakukan di dua kota yaitu South Dakota dan Wyoming di Amerika Serikat. Beberapa tempat konservasi dan kawasan lindung termasuk Taman Nasional Badland dan Kawasan Lindung Sage Creek juga digunakan dalam pengambilan gambar film Dance with Wolves.
Pemandangan laut dengan pantai pasir putih bersih dan laut biru yang jernih serta dihiasi pulau-pulau karang menjulang di pulau wisata terkenal Phi Phi di pesisir bagian barat Thailand juga dapat ditemui di film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, pemeran Jack dalam film Titanic, The Beach pada tahun 2000.
           
Film Sebagai Bentuk Pemasaran Destinasi
Pengambilan keputusan dalam memilih tujuan berwisata sangat bergantung pada persepsi dan image tentang suatu tempat. Chon (1990) dan Um (1993) menegaskan bahwa image atau gambaran tentang suatu tempat menentukan apakah seseorang wisatawan akan mengunjunginya atau tidak. Semakin baik citra suatu tempat atau destinasi seperti kesan yang bersih, hijau, subur atau segar maka semakin besar kemungkina wisatawan akan mengunjunginya. Demikian pula sebaliknya jika gambaran atau citra suatu destinasi wisata negatif seperti kurang aman, kotor, gersang, kering dan tandus atau rawan bencana maka wisatawan kemungkinan tidak akan mengunjunginya. Citra yang merupakan penentu kemana wisatawan akan berkunjung merupakan persepsi yang melekat dalam pikiran. Film atau rangkaian gambar dalam film membangun serta memperkuat citra atau gambaran tentang suatu tempat.
Menyadari hubungan antara kesuksesan film dengan meningkatnya minat dan ketertarikan akan tempat pengambilan gambar atau pembuatan film tersebut membuat banyak pemerintah mendorong industri film sebagia media promosi pariwisatanya. Hal ini didukung oleh munculnya jenis wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu tempat setelah menonton film. Tempat tersebut biasanya adalah tempat pengambilan gambar filmnya. Lahirlah yang disebut Wisata Film (Film tourism).
Film dimasa mendatang akan banyak dijadikan sarana promosi daerah tujuan wisata. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama meningkatnya jumlah wisatawan membutuhkan jenis dan tujuan wisata alternative. Wisata film adalah pariwisata alternative yang mengunjungi lokasi pembuatan film atau perjalanan wisata yang diinsiprasi dan didorong setelah menonton suatu film. Oleh ahli pariwisata dikategorikan sebagai pariwisata budaya. Kedua pertumbuhan industri perfilman yang pesat. Pertumbuhan ini membutuhkan tempat pembuatan film dengan setting atau latar belakang tempat yang beragam.  Ketiga film klasik dan sukses akan diputar sepanjang masa dan akan terus ditonton jutaan orang. Sound of Music film musikal yang dibuat di Zalsburg Austria, kota kelahiran komponis ternama Wofgang Amadeus Mozart pada tahun 1965, atau 45 tahun yang lalu masih ditonton banyak orang saat ini. Bahkan menjadi symbol dan bagian dari kota wisata terpadat di Eropa ini. Keempat mahalnya biaya promosi konvensional seperti iklan di TV atau media cetak. Spot iklan saluran ESPN per 30 detik seharga Rp.87juta, dapat dibayangkan mahalnya iklan pariwisata berdurasi 1 menit Malaysia Truly Asia yang ditayangkan tiap minggu selama berbulan-bulan di Discovery Channel. Tidak mengherankan jika Badan Pariwisata New Zealand berkata ’.....Film Lord of the Ring adalah iklan wisata New Zealand berdurasi 3 jam.....’. Kelima alur cerita, tautan sejarah atau budaya yang membuat film menjadi lebih menarik dan membangkitkan minat calon wisatawan. Beberapa film yang disebutkan diatas merupakan kisah nyata yang mengandung nilai-nilai yang mampu menginspirasi banyak orang. Hal inilah yang menjadikan film sebagai alternative promosi daerah tujuan wisata atau destinasi yang sangat menjanjikan. 
Kesuksesan Lord of the Ring memperkenalkan New Zealand sebagai destinasi wisata ke dunia menjadi pelajaran menarik bagi banyak negara. Film ini sedianya diperuntukkan untuk pasar Amerika sebagai pusat industri film Hollywood, namun kemudian mendapat perhatian diseluruh dunia. Pada tahun 2003, dua tahun setelah pemutaran seri pertama The Fellowship of the Ring, tercatat terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke New Zealand sebesar 7,1%. Film Lord of the Ring telah mendorong pertumbuhan pariwisata di New Zealand.
Ada beberapa film yang disebut-sebut sukses mendongkrak kunjungan wisatawan mengikuti suksesnya sebuah film. Yang paling spektakular untuk dicatat adalah film Braveheart yang dibintangi Mel Gibson. Hudson dan Ritchie (2006) mencatat bahwa peningkatan wisatawan 300% setahun setelah di releasenya film ke monumen Wallace yang dibuat untuk mengenang keberanian pahlawan Scotland ini.
Bermaksud mengikuti jejak keberhasilan negara tetangganya, pemerintah Australia melalui Tourism Australia mendukung promosi dan peluncuran film Australia pada tahun 2008. Film ini dibintangi oleh aktris tenar Nicole Kidman dan Hugh Jackman, oleh lembaga promosi pariwisata dikatakan bahwa aktor dan bintang utama sebenarnya dari film ini adalah Australia. Berlatar belakang perang dunia ke II, Australia digambarkan dalam film ini sebagai daerah pedalaman dengan pemandangan indah alami dan belum terjamah. Dengan biaya promosi yang besar untuk mendukung film Australia, pemerintah Australia mengharapkan film ini mampu menarik sebanyak-banyaknya wisatawan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah yang ada dalam film.
Beberapa daerah wisata lahir sebagai hasil dari perkembangan industri film, yang belakangan ini melahirkan wisata film (Film Tourism).

Dampak Film Terhadap Destinasi
Munculnya film yang sukses dan terkenal berpengaruh besar terhadap tempat pengambilan gambar atau pembuatan film tersebut. Dampaknya sangat beragam mulai dari ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Kunjungan wisatawan asing ke suatu tempat membawa devisa yang mampu menggerakkan perekonomian lokal dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini memberi dampak positif ekonomis jangka pendek dan tetapi mampu memperbaiki kondisi ekonomi secara jangka panjang.
Beberapa film bahkan mampu menguatkan nilai budaya setempat dan mengangkat kembali makna sejarah bangsa. Braveheart yang dibintangi dan disutradarai Mel Gibson pada tahun 1995 terbukti mampu menghidupkan kisah tokoh patriot dan pahlawan nasional Scotlandia Sir William Wallace. Film ini mengingatkan semangat nasionalisme dan perjuangan untuk melepaskan diri dari koloni dan penjajahan kerjaaan Inggris di abad 14. Dance with Wolves juga dipuji karena nilai-nilai humanis, idealisme serta heroiknya yang menginspirasi.
Tidak hanya itu, film seperti yang diungkapkan di atas mampu membangkitkan apresiasi terhadap keindahan alam, semangat konservasi dan pelestarian lingkungan dan satwa liar. Hubungan yang kuat antara film dan keindahan serta kehidupan alam liar dapat dilihat dengan pengambilan gambar di kawasan-kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam atau hutan lindung. Crocodile Dundee, film komedi tahun 1986 yang dibintangi Paul Hogan adalah salah satunya. Steve Irwin aktivis lingkungan, pencinta satwa liar dan ikon konservasi Australia juga sempat tampil dalam film komedi Mr. Doolitle 2 yang dibintangi oleh aktor kawakan Eddie Murphy.
Hubungan film dan pariwisata seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk mulai mempertimbangkan film sebagai bahan promosi wisata [domestik]. Mungkin seperti film Laskar Pelangi yang bersetting Pulau Belitung. Dan jika mendapat perhatian serta promosi yang tepat dan sesuai seharusnya film King Kong yang disutradarai oleh sutradara Lord of the Ring Peter Jackson pada tahun 2005, bisa dimanfaatkan untuk promosi pariwisata Indonesia. Mengingat Skull Island di transkrip awal film sedianya digambarkan sebagai sebuah pulau kecil dekat Sumatra dan kapal yang digunakan berlayar dinamakan Venture Surabaya, dua nama tempat yang sudah pasti hanya ada di Indonesia.
Bagiamana dengan film Eat, Pray and Love film terbaru si Pretty Woman Julia Robert, apakah bisa mengangkat pariwisata Indonesia?  

No comments:

Post a Comment