Body of knowledge berkembang dan tersusun oleh akumulasi wacana dan ide. Wacana tersebut idealnya mengandung kejujuran yang pada hakikatnya merupakan kebenaran subyektif. Benar bagi seseorang belum tentu diterima oleh yang lain, demikian sebaliknya. Kumpulan tulisan ini tidak bermaksud mengkritik atau menafikan upaya akademis yang telah berhasil mengantar pariwisata menjadi ilmu yang mandiri. Sebaliknya, tulisan ini berusaha untuk memperkaya wacana, melalui proses pertukaran ide dan pikiran, yang pada akhirnya bertujuan untuk memperkaya body of knowledge pariwisata. Karena hanya melalui pertukaran ide dan pikiran sebuah ilmu dapat hidup, tumbuh dan bertambah kuat, sebagaimana yang dilakukan Plato yang memperkaya dan memperkuat ilmu filsafat saat membuka academus pada masa Yunani Kuno. Filsafat pada masa tersebut bagi masyarakat belum menjadi ilmu karena merupakan sesuatu yang baru, rumit dan aneh. Filsafat bagi sekelompok orang terkesan tidak mengandung manfaat.
Diskusi, saling berbagi informasi, serta saling membantu dalam meneliti atau menulis ide dan pemikiran merupakan tugas akademisi. Tugas ini bertujuan akhir melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat tidak hanya secara praktis (aksiologis) melainkan demi kebaikan (ontologis) dan bertahannya pengetahuan itu dengan posisinya diantara ilmu yang lain (epistemologis). Pariwisata sebagai ilmu yang telah diakui secara resmi tidak akan hidup tanpa dinamika akademis seperti penelitian, diskusi ilmiah dan publikasi atau menulis (Pitana, 2011).
Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan penting tentang pariwisata yang akan menjadi judul-judul terpisah dari tulisan ini. Pertama adalah kearah mana pariwisata akan berkembang serta bagaimana pariwisata dapat dikembangkan. Pertanyaan ini akan mendasari tema tulisan bagian pertama tentang pengakuan pariwisata secara resmi sebagai ilmu yang mandiri. Selain mengurai sejarah dan proses keberadaan institusi pendidikan pariwisata tulisan pada bagian ini berusaha mendeskripsikan bagaimana upaya yang telah dilakukan sehingga pariwisata akhirnya diakui sebagai disiplin ilmu di Indonesia. Paparan ini akan memberikan landasan berpikir arah perkembangannya.
Pertanyaan bagian kedua adalah bagaimana hubungan antara teori pariwisata yang akan diwakili komunitas atau masyarakat akademis serta praktik pariwisata yang digeluti oleh kaum professional dan pelaku sektor usaha pariwisata. Bagaimana seharusnya hubungan kedua pihak atau bidang tersebut terutama dalam pengembangan pengetahuan kepariwisataan. Posisi apa yang dilakoni terutama oleh para praktisi yang kemudian menggeluti dunia pendidikan dalam tujuan pengembangannya. Seperti diketahui bahwa didunia pendidikan pun terdapat dua aliran yaitu kepariwisataan dan hospitality atau jasa pelayanan. Kepariwisataan terkait dengan pengembangan pariwisata dan hospitality yang terkait dengan usaha sektor pariwisata. Serupa dengan diatas, pertanyaan ini mendasari tema tulisan bagian kedua tentang pengakuan pariwisata sebagai bagian dari industri. Bagian ini juga ingin memperjelas dan menguraikan penamaan industri pada pariwisata apakah sudah tepat secara leksikal atau hanya berupa hiperbolik.
Serta banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti bagaimana seharusnya konstruksi pariwisata sebagai sebuah ilmu? bagaimana bentuk penyelesaian dilema multi, inter atau intra-disiplin pariwisata? metode apa yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan keilmuan yang murni sebagai metodologi kepariwisataan dan bukan pinjaman dari disiplin ilmu lain? Bagaimana definisi pariwisata yang ideal dan tunggal namun dapat memayungi seluruh sektor pariwisata? serta banyak pertanyaan lainnya yang jawabannya perlu perumusan standar secara bersama.
Serta banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti bagaimana seharusnya konstruksi pariwisata sebagai sebuah ilmu? bagaimana bentuk penyelesaian dilema multi, inter atau intra-disiplin pariwisata? metode apa yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan keilmuan yang murni sebagai metodologi kepariwisataan dan bukan pinjaman dari disiplin ilmu lain? Bagaimana definisi pariwisata yang ideal dan tunggal namun dapat memayungi seluruh sektor pariwisata? serta banyak pertanyaan lainnya yang jawabannya perlu perumusan standar secara bersama.
No comments:
Post a Comment