Tuesday, October 4, 2011

Pergulatan dalam Pariwisata

Beberapa saat yang lalu  ada kejadian menarik disalah satu stasiun televisi pada program hukum yang selalu disebut sebagai acara yang paling mencerahkan dan dinanti oleh banyak pemirsa. Dalam suatu dialog atau lebih tepatnya perdebatan, ada seorang politisi yang mencemooh seorang budayawan karena merasa sang budayawan asal bicara dan isi pembicaraannya kurang bermutu. Mbah budayawan yang berpenampilan seniman berambut panjang dan eksentrik di pandang sebelah mata oleh politisi yang berjas licin mengkilat, disetrika rapi. Singkatnya, sang politisi merasa lebih hebat dari budayawan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah memang politisi lebih berkontribusi dalam pembangunan dibanding budayawan? Apa budayawan adalah orang yang hanya memikirkan hal sepele dan tidak bermanfaat sehingga tidak menyumbang apa-apa bagi pembangunan negaranya?

Ego sektoral dalam berbagai kesempatan atau seminar sering disalahkan sebagai biang kurang harmonisnya irama pembangunan yang bersifat lintas sektor. Salah satu pihak merasa lebih baik, bermanfaat dan lebih hebat dari lainnya. Seolah yang berperan hanya satu kelompok saja. Tidak hanya dibidang pembangunan, sikap merasa lebih pintar atau lebih tinggi terjadi juga dalam bidang pendidikan. Jika kembali mengingat pada masa kuliah dahulu, fakultas teknik misalnya selalu dianggap lebih pintar dan akhirnya akan lebih cepat dapat kerja sehingga lebih bermanfaat dibanding fakultas ilmu sosial. Status seperti ini berjenjang dan terjadi pada fakultas-fakultas lain bahkan secara internal. Di fakultas pertanian, ada jurusan yang lebih favorit dan ada yang paling tidak diminati, biasanya yang favorit jika terkait dengan hitung-hitungan atau keteknikan menempatkan Teknologi Pertanian sebagai jurusan yang banyak peminatnya. 

Padalah jika diamati ilmu yang satu tidak akan eksis dan mapan tanpa keberadaan ilmu lainnya. Ilmu matematika, induknya ilmu teknik, tidak berkembang sendiri melainkan diawali dan dibarengi justru dengan ilmu filsafat serta psikologi. Pertanian sebagai ilmu tidak akan berkembang tanpa adanya teori Malthusian yang merupakan fenomena sosial pertumbuhan masyarakat Amerika Serikat yang menghendaki pemenuhan kebutuhan serta produksi secara massal dan berkelanjutan. Serta penemuan-penemuan keteknikan modern terjadi karena adanya permasalahan sosial non-kuantitatif dalam masyarakat. Desain, penamaan serta pemasaran teknologi baru selalu diawali dengan kajian-kajian yang melibatkan sosiolog dan budayawan. Bahkan pengenalan temuan baru tersebut pada kelompok masyarakat sering gagal tanpa melibatkan pertimbangan aspek budaya. Pembangunan bendungan multifungsi yang penuh kalkulasi matematis misalnya dapat gagal jika masyarakat yang terkena dampak tidak dimasukkan dalam pertimbangan-pertimbangan yang diperoleh melalui pendekatan kualitatif.

Dikotomi ilmu sosial dan ilmu pasti memang masih terjadi di negara berkembang. Berbeda dengan negara maju, percabangan ilmu sosial misalnya seperti antropologi merupakan ilmu yang menarik sehingga digeluti banyak pihak. Margareth Mead antropolog yang lama menetap dan tertarik dengan Bali meneliti banyak aspek kehidupan masyarakat Bali. Margaret Mead secara tidak langsung menggugah rasa ingin tahu masyarakat Barat tentang eksotisme Bali. Demikian pula dengan seniman-seniman besar yang pernah menetap di Bali pada masa 1920-1940an seperti Walter Spies, Rudolf Bonet, Miguel Covarrubias dan lainnya. Mereka seniman dan budayawan adakah tokoh yang secara tidak langsung mempromosikan Bali sebagai destinasi pariwisata, pada masa tersebut sebagai 'surga terakhir'. Pada kenyataannya tidak sedikit tokoh dan pemimpin dunia yang berlatar belakang ilmu sosial.Di negara berkembang, seperti Indonesia, nampaknya ilmu sosial masih dilihat sebelah mata.

Pergulatan demikian juga terjadi dalam keilmuan pariwisata. Dalam pariwisata terjadi pemisahan yang ekstrim antara dunia praktisi dengan akademisi. Praktisi mengklaim bahwa penelitian pariwisata tidak 'menjejak bumi' sehingga tidak banyak bermanfaat bagi mereka (Buku DMO). Demikian pula sebaliknya menurut akademisi, para pelaku usaha pariwisata seolah berjalan sendiri dan merasa lebih tahu pariwisata. Tidak sedikit praktisi bekerja sebagai konsultan pada beberapa pemerintahan provinsi. Dikotomi lainnya adalah tentang karakter inter-disiplin versus intra-disiplin keilmuan pariwisata terutama dalam metodologi keilmuannya.

Kembali ke perdebatan politisi dan budayawan, setelah  menonton acara televisi tersebut saya kemudian mencari tahu tentang latar belakang keduanya. Tidak disangka, ternyata sang budayawan walau tidak menyelesaikan studinya justru berlatar belakang ilmu matematika dari institut teknik kenamaan di Indonesia sedangkan sang politisi seorang jebolan fakultas bahasa & sastra. Mungkin tidak ada yang salah dari keduanya jika berada pada posisi dan pendapat berseberangan. Pertanyaannya adalah bagaimana keduanya membuktikan kebenaran masing-masing dengan menjalani perannya sebaik dan semaksimal mungkin. Politisi memperbaiki arah dan kebijakan politik pembangunan sedangkan budayawan membangun budaya masyarakat dan bangsa yang lebih bermartabat.

No comments:

Post a Comment